Sunday, September 20, 2015

Apakah Zakat sama dengan Pajak?



Di masyarakat awwam sering berlaku beberapa pendapat tentang zakat, diantaranya adalah pemahaman orang yang menyamakan zakat dengan pajak dari pemerintah. Mereka beranggapan bahwa jika mereka sudah membayar pajak, maka tidak perlu lagi membayar zakat (maal). Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang zakat dan pajak menurut Muhammadiyah sebagaimana yang sudah tercantum di dalam buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Adapun pengertian zakat sudah saya tuliskan pada artikel sebelumnya di sini.
Zakat dan pajak adalah dua kewajiban yang masing-masing berdiri sendiri. Karena zakat adalah suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Allah SWT, yang sudah ditentukan kadarnya dan ditentukan pula siapa orang yang berhak menerimanya.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an, Surat At-Taubah ayat 103.
“ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[*] dan mensucikan[**] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

[*] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[**] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
Juga sebagaimana tertuliskan dalam QS. Al Mu’minun : 1-4,
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat,”

Adapun pajak adalah suatu kewajiban yang ditentukan oleh Negara dan diatur sedemikian rupa oleh Negara segala mekanismenya, berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku.
Nah, dari penjelasan singkat tersebut sudah jelas bahwa zakat dan pajak adalah dua kewajiban yang berbeda, dan tidak saling menghapuskan. Orang yang sudah membayar pajak maka ia masih diwajibkan oleh Allah untuk membayar zakat, manakala sudah memenuhi nishabnya.
Demikianlah penjelasan mengenai zakat dan pajak. Semoga bermanfaat. Allahu’alam.

Saturday, September 19, 2015

Qunut Muhammadiyah

Pendahuluan
1.    Bahwa qunut dengan arti berdiri lama untuk membaca dan berdoa dalam shalat, itu adalah masyru’ (ada tuntunannya)
2.    Tidak membenarkan adanya pengertian qiyam (berdiri) sebagaimana tersebut di atas dikhususkan untuk qunut  subuh yang sudah dikenal dan diperselisihkan hukumnya.
3.    Nabi Muhammad saw menjalankan qunut nazilah sampai Allah menurunkan ayat :

tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[*] atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran : 128)

 [*] Menurut riwayat Bukhari mengenai turunnya ayat ini, karena Nabi Muhammad s.a.w. berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

Penjelasan Qunut Subuh
Disamping makna asli dari perkataan “qunut” yang berarti “tunduk kepada Allah dengan kebaktian” Muktamar dalam keputusannya menggunakan makna qunut yang berarti “berdiri lama dalam shalat dengan membaca Al Qur’an dan berdo’a sekehendak hati”.
Sementara orang telah cenderung member arti khusus tentang qunut, yaitu “ berdiri sementara” pada shalat subuh sesudah ruku’ pada raka’at ke dua dengan membaca do’a.
Muhammadiyah berpendapat bahwa:
1.    Setelah diteliti kumpulan macam-macam hadits tentang qunut, maka qunut merupakan bagian dari sholat, tidak khusus hanya diutamakan pada shalat subuh.
2.    Bacaan do’a “Allahumahdini fi man hadait…. “ dan seterusnya dalam sholat subuh tidak sah.

Penjelasan Qunut Nazilah
Berdasarkan QS. Ali Imran ayat 128
tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.”

Maka timbul pemahaman yang berbeda :
1.    Bahwa qunut nazilah tidak lagi boleh diamalkan.
2.    Boleh dikerjakan dengan tidak menggunakan kata kutukan dan permohonan pembalasan terhadap perorangan.

Allahu’alam. Semoga bermanfaat.

Monday, September 14, 2015

Pengertian Zakat Menurut Muhammadiyah


Arti Zakat Menurut Bahasa Dan Istilah
Ditinjau dari segi bahasa, zakat merupakan kata dasar dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang. Seseorang itu zaka berarti orang itu baik. Zakat dari sudut bahasa Lisan Al Arab berarti suci, tumbuh, berkah dan terpuji, semuanya digunakan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Zakat menurut Wahidi dan lainnya, zaka berarti bertambah dan tumbuh, sehingga bisa dikatakan, tanaman itu zak, artinya tanaman itu tumbuh. Sedangkan setiap sesuatu yang bertambah disebut zaka. Jika tanaman tumbuh tanpa cacat dikatakan zaka, berarti bersih. Jika seseorang diberi sifat zaka dalam arti baik, maka berarti orang itu lebih banyak mempunyai sifat yang baik. Seorang itu zaki, berarti seseorang yang memiliki lebih banyak sifat baik.
Zakat juga diartikan sebagai Pertumbuhan (An-Nama’), Keberkahan (Al-BArokah), Az-Ziyadah (tambahan/kelebihan), Ash Sholah (Baik), Ath-Thoharoh (suci).

Arti Zakat Dari Segi Istilah
Zakat dari segi istilah berarti “Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak”. Zakat juga berarti mengeluarkan jumlah tertentu. Jumlah yang dikeluarkan tersebut disebut zakat, karena yang dikeluarkan tersebut menambah banyak, membuat lebih berarti dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan. (Al Majmu’ 5 : 324).
Zakat menurut Ibnu Taimiyah dapat membersihkan jiwa orang yang berzakat. “Jiwa orang yang berzakat itu menjadi bersih dan kekayaanya akan bersih pula. Bersih dan bertambah maknanya. (Kumpulan Fatwa Ibnu Taimiyah 25 :8 ).
Tumbuh dan suci tidak hanya ditempelkan kepada kekayaan yang dizakati, melainkan juga dinisbatkan kepada orang yang mengeluarkan zakat.

ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[*] dan mensucikan[**] mereka “.

[*] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[**] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Zakat juga menciptakan pertumbuhan buat orang-orang miskin. Zakat adalah cambuk ampuh yang membuat zakat juga mengembangkan jiwa dan kekayaan orang-orang kaya.
Demikianlah pengertian zakat menurut bahasa dan zakat menurut istilah. Dengan uraian tersebut di atas diharapakan umat Islam tidak lagi rau-ragu dalam ber-zakat. Dimana sebagian umat Islam masih memiliki pemahaman-pemahaman yang tidak tepat terhadap zakat, diantaranya; menganggap zakat adalah cukup dengan zakat fitrah saja, tidak perlu dengan zakat-zakat yang lain; berikutnya orang beranggapan bahwa zakat hanya diwajibkan bagi orang yang mempunyai penghasilan luar biasa besar saja; juga pemikiran yang menyatakan bahwa kita sudah cukup banyak mengeluarkan infaq dan shodaqoh.
Dengan memahami arti penting zakat, kita diharapkan akan segera mengerjakan salah satu perintah Allah SWT tersebut. Perintah yang hampir selalu disertakan dan menempel mengikuti kata perintah Allah yang lain yaitu sholat. Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Demikian Allah sering mengulang-ulang perintah tersebut dalam Al-Qur’an. Hal ini dapat kita maknai bahwa kedua perintah tersebut (sholat dan zakat) adalah hal yang sangat-sangat penting. Ada makna yang besar di balik perintah tersebut. Dan tentunya setiap perintah Allah adalah demi kebaikan manusia sendiri, termasuk zakat.
Zakat jika dijalankan dengan semestinya oleh umat Islam, maka ia akan bisa memakmurkan umat manusia sendiri. Zakat akan membuat umat menjadi tenang, baik yang mengeluarkan zakat ataupun orang yang menerima zakat. Apakah zakat sama dengan pajak? Silahkan anda baca artikelnya di sini.
Allahu’alam. Semoga bermanfaat.

Saturday, September 12, 2015

Kelemahan Muhammadiyah



Tak ada gading yang tak retak. Mungkin peribahasa tersebut pantas untuk dijadikan bahan renungan, bahwa setiap sesuatu pasti memiliki kelemahan atau kekurangan. Tidak ada satupun yang sempurna melainkan Sang Khaliq. Demikian pula dengan Organisasi Islam Modern terbesar di dunia ini, Muhammadiyah masih memiliki kelemahan yang harus terus dikoreksi, diperbaiki dan diperbarui, diantaranya adalah :
1.             Lebih Mengedepankan Amaliah
Kecenderungan kuat Muhammadiyah pada gerakan aksi (amaliah) menjadikan gerakan pemikiran kurang berkembang dengan baik, sehingga kurang memberikan kontribusi bagi pengembagan pemikiran Islam dan kebangsaan Indonesia, maupun dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran bagi peradaban dunia.
2.             Kurangnya Kualitas AUM
Perkembangan amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang sangat peat secara kuantitas belum diimbangi peningkatan kualitas yang sepadan dan merata shingga sapai batas tertentu kurang memiliki daya saing yang tinggi serta kurang memberikan sumbangan yang lebih luas dan inovatif bagi pengembangan kemajuan umat dan bangsa.
3.             Cenderung Birokratis
Organisasi yang tumbuh semakin besar membuat Muhammadiyah cenderung birokratis dan lamban dalam menghadapi persoalan-persoalan yang berkembang dalam masyarakat, terutama dalam menyikapai masalah-masalah social baru, seperti isu-isu pelanggaran hak asasi manusi, kemiskinan structural, dampak buruk globalisasi, perdagangan manusia, pengrusakan alam dan lingkungan, korupsi dan kejahatan kerah putih, dan masalah-masalah demoralisasi yang meluas dalam kehidupan bangsa.
4.             Kurang Merakyat
Organisasi Muhammadiyah yang demikian besar juga dinilai masih belum secara optimal menyentuh persoalan-persoalan masyarakat di akar rumput terutama yang mengalami marjinalisasi seperti buruh, petani, nlayan, dan kaum dhu’afa serta mustadh’afin (tertindas) lainnya, sehingga menimbulkan kesan gerakan Islam ini hanya  bergerak di lingkungan atas perkotaan.
5.             Melemahnya komitmen kader
Kecenderungan melemahnya komitmen ideologis pada sebagian anggota, kader dan pimpinan sehingga kurang atau tidak memberikan kontribusi besar atau optimal bagi kemajuan persyarikatan.

Demikian tadi adalah kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh Muhammadiyah, sebagaimana tercantum dalam Program Muhammadiyah 2015-2020 pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar 2015, yang dapat dijadikan bahan renungan kembali, bagaimana agar dakwah Muhamamdiyah dapat bergerak dengan lebih cepat dan tepat. Semoga bermanfaat.

Kekuatan Muhammadiyah



Sebagai sebuah organisasi yang telah berusia satu abad, Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan. Adapun kekuatan Muhammadiyah adalah sebagai berikut :
1.             Dasar Pergerakan.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam mendasarkan seluruh gerakannya kepada Al Quran dan As Sunnah Al Maqbulah yang disertai pengembangan ijtihad, menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Modern yang terbesar sekaligus memperoleh kepercayaan luas dari umat Islam pada khususnya serta bangsa Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya.
2.             Reputasi Muhammadiyah
Muhammadiyah mempunyai reputasi sebagai gerakan Islam Modern yang terbesar di dunia, dan hal ini telah dikenal luas secara nasional maupun internasional, sehingga berdampak pada berbagai kemudahan dan dukungan yang diperoleh oleh Muhammadiyah dalam menyelenggarakan kegiatan di tingkat local maupun nasional, termasuk dalam mengembangkan program kerjasama dengan lembaga internasional.
3.             Jaringan Organisasi
Muhammadiyah memiliki jaringan organisasi yang tersebar di seluruh penjuru tanah air dan beberapa Negara ASEAN maupun Negara di luar itu yang membuat Muhammadiyah lebih mudah bergerak dan memberikan kekuatan kelembagaan dalam mengembangkan aktivitas di tingkat akar rumput yang membutuhkan koordinasi berjenjang dan melibatkan partisipasi masyarakat luas di berbagai daerah.
4.             Amal Usaha Muhammadiyah
Perkembangan amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang sangat besar secara kuantitatif juga menjadi asset sumber daya, fasilitas dan infrastruktur yang sangat penting bagi persyarikatan selain dalam mempertahankan diri dari berbagai krisis, sekaligus berkiprah luas dalam memajukan kehidupan bangsa dan umat manusia.
5.             Sumberdaya Manusia
Muhammadiyah memiliki sumberdaya manusia dengan latarbelakang social menengah, pendidikan tinggi, professional, kompetensi, serta integritas moral dan peran sosial yang cukup potensial sehingga tersebar luas di banyak struktur dan lingkungan kelembagaan baik di pemerintahan maupun non-pemerintah.
6.             Modal Sosial dan Moral
Muhammadiyah sebagai kekuatan organisasi social keagamaan atau organisasi kemasyarakatan yang telah berkiprah lama dan luas di Indonesia sejak pra kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan, telah menjadikan gerakan Islam Muhammadiyah memiliki modal social dan modal moral sehingga menjadi kekuatan politik kebangsaan dan masyarakat madani yang diperhitungkan.

Demikian tadi adalah kekuatan yang dimiliki oleh Muhammadiyah, sebagaimana tercantum dalam Program Muhammadiyah 2015-2020 pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar 2015, yang dijadikan modal dalam bergerak dan terus berdakwah amar ma’ruf nahi munkar. Semoga bermanfaat.

Friday, September 11, 2015

Thawaf Menurut Tarjih Muhammadiyah



Thawaf adalah salah satu rangkaian kegiatan haji dan umrah. Thawaf berarti mengelilingi Baitullah (Ka’bah) di Masjidil Haram sebanyak 7 (tujuh) kali. Arah putaran thawaf adalah berlawanan dengan arah jarum jam, atau menjadikan Baitullah di sebelah kiri kita. Jika kita dalam ihram maka kain ihram sebelah kiri kita turunkan sedemikian rupa sehingga bahu sebelah kiri terbuka.
Adapun rangkaian thawaf menurut Tarjih Muhammadiyah adalah thawaf di Baitullah sebanyak 7 kali, dimulai dari Hajar Aswad dan usaplah kepadanya dan kecuplah bila mungkin, atau jamahlah dengan tanganmu, lalu kecuplah tanganmu atau tunjuklah (member isyarat) kepada Hajar Aswad dengan tongkat misalnya, atau kecuplah tongkat itu.
Hal ini berdasarkan pada hadits Ibnu Umar, katanya “Aku melihat Rasulullah SAW mengusap Hajar Aswad dan mengecupnya (HR. Bukhari). Juga Hadits dari Ibnu Abbas bahwa NAbi SAW berthawaf pada haji wada’ dengan mengendarai unta, mengusap rukun (Hajar Aswad) dengan tongkat (HR. Muttafaq ‘alaih). Dan juga hadits dari Abi Thufail, “Aku melihat RAsulullah SAW thawaf di Baitullah dan mengusap rukun (hajar aswad) dengan tongkat lalu mengecup tongkatnya” (HR. Muslim)
Maka mulailah berlari kecil 3 (tiga) kali dan berjalan biasa 4 (empat) kali dan tiap engkau di Rukun Yamani, maka usaplah kepadanya atau berilah salam kepadanya sambil membaca takbir dengan tidak mengecupnya. Jika sudah sampai di Hajar Aswad maka usaplah serta kecuplah sebagaimana yang lalu. Dan hal ini dikerjakan sebanyak 7 (tujuh) kali.
Kemudian sholat 2 (dua) rakaat di belakang Maqam Ibrahim dengan membaca surat Al-Kafirun sesudah Al-Fatihah pada rakaat pertama dan membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat ke-dua, kemudian kita menghampiri Hajar Aswad dan mengusapnya.
Bagi anda yang ingin mengetahui hukum haji bisa anda baca di sini.

Featured Post

Langkah Ke-Dua untuk Meraih 1000 Dolar dari Shutterstock

Assalamu'alaikum kawan semua! Yang pertama ingin saya sampaikan, $ elamat ! bagi anda sudah terdaftar sebagai Contributor Shuttersto...

Popular Posts