Sunday, August 30, 2015

Indonesia Berkemajuan Menurut Muhammadiyah



Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 3-7 Agustus 2015 yang lalu, Muhammadiyah mengusung tema yang sangat fenomenal yaitu “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Muncul pertanyaan, bagaimanakah yang dimaksud dengan Indonesia berkemajuan itu? Nah dalam beberapa tulisan, akan saya ulas dari beberapa sumber.
Indonesia Berkemajuan adalah suatu pemikiran yang mendasar dan mengnadung rekonstruksi yang bermakna dalam kehidupan kebangsaan bagi terwujudnya cita-cita Negara dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat sejajr dengan bangsa dan negara lain yang telah mencapai keunggulan.
Indonesia yang berkemajuan merupakan aktualisasi dari cita-cita Proklamasi dan tujuan pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia. Sebagaimana dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, cita-cita Proklamasi adalah terbentuknya Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Sedangkan tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Konsep Indonesia Berkemajuan memiliki semangat yang sama dengan ungkapan “memajukan kesejahteraan umum” yang memiliki nilai kebaikan, keadilan, kemakmuran dan keberadaban. Berkemajuan mengandung arti proses dan sekaligus tujuan yang bersifat ideal untuk mencapai kondisi unggul.
KH. Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional berpesan kepada para muridnya agar menjadi manusia yang berkemajuan, yaitu manusia yang senantiasa mengikuti ajaran agama dan sejalan dengan kehendak (perkembangan) jaman . Soekarno, sebagai tokoh penting pergerakan nasional, berpendapat bahwa umat Islam akan tumbuh menjadi golongan yang maju apabila bersedia berpikir rasional, bersikap tidak kolot, serta mampu menangkap api Islam yang sebenar-benarnya.
Indonesia Berkemajuan memiliki beberpa dimensi. Pertama, berkemajuan dalam semangat, alam pikir, perilaku dan senantiasa berorientasi ke masa depan. Kedua, berkemajuan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik dalam kehidupan materiil dan spiritual. Ketiga, berkemajuan untuk menjadi unggul di berbagai bidang dalam pergaulan dengan bangsa lain.
Indonesia berkemajuan merupakan keharusan demi terwujdunya tatanan kebangsaan yang merdeka, adil, makmur, damai , berkemanusiaan, bermartabat dan berdaulat.

Friday, August 28, 2015

Nilai Penting Majelis Pesantren Muhammadiyah



Era sebelum muktamar 47 di Makassar, Pesantren-pesantren Muhammadiyah berada dalam pengelolaan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Berdasarkan laporan pimpinan-pimpinan pondok pesantren Muhammadiyah sebagaimana disampaikan dalam SIlatnas ke-2 tahun 2015, bahwa selama ini Majelis Dikdasmen sangat setengah hati memberikan perhatian kepada Pesantren Muhammadiyah. Sehingga jika tetap di bawah Dikdasmen, maka harapan akan hadirnya ulama Muhammadiyah yang lahir dari rahim Pesantren Muhammadiyah hanya akan menjadi sekedar wacana.
Salah satu hal yang melatar-belakangi berdirinya Muhammadiyah adalah karena posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan saat itu.

Thursday, August 27, 2015

Muhammadiyah dan Masa Depan Indonesia



Indonesia ke depan menghadapi banyak tantangan yang berat dan multidimensi. Oleh karenanya Muhammadiyah mengajak seluruh komponen bangsa untuk berjuang bersama menjadikan Indonesia sebagai Negara Pancasila yang memiliki idealisme dan ciriutama “baldatun thayibatun wa rabbun ghafur”, yaitu Negara dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan Ridha Allah SWT.
Dalam kehidupan berbangsa, bangsa indoensia menghadapi penyakit serba-materi (materialisme), kesenangan duniawi (hedonisme), kebebasan tanpa batas (liberalism) dan mentalitas rendahan yang merusak diri dan lingkungan.
Muhammadiyah percaya sepenuhnya bahwa bangsa Indonesia dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapi dengan syarat perjuangan yang sungguh-sungguh dari semua pihak yakni pemerintah, warga Negara dan seluruh komponen bangsa, disertai tekad, kebersamaan, dan pengerahan potensi nasional secara optimal. Indonesia yang berkemajuan memerlukan rekonstruksi kehidupan kebangsaan yang bermakna sejalan dengan jiwa dan cita-cita nasional sebagaimana digariskan oleh para pendiri bangsa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah sejak awal berjuang untuk pengintegrasian ke-Islaman dan ke-Indoneisaan. Bahwa Muhammadiyah dan umat Islam adalah merupakan bagian integral dari bangsa dan telah berkiprah dalam membangun Indonesia sejak pergerakan kebangkitan nasional hingga era kemerdekaan. Muhammadiyah terlibat aktif dalam peletakan dan penentuan fondasi Negara dan bangsa yang berdasar Pancasila dan uNdang-undang 1945. Muhammadiyah berkontribusi dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa serta memeihara politik Islam yang berwawasan kebangsaan di tengah pertarungan ideology dunia.
Muhammadiyah memiliki wawasan kebangsaan yang jelas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 merupakan consensus nasionalyang final dan mengikat seluruh komponen bangsa dengan menjadikan Muhammadiyah sebagai pemersatu bangsa sesuai dengan Al Qur’an Surah Al Hujurat ayat 13.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Oleh karenanya bagi warga Muhammadiyah maupun umat Islam hendaknya menjadikan Bangsa Indonesia sebagai wadah kesaksian dan pembuktian menuju Indonesia berkemajuan yaitu maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat sebagiamana cita-cita utama Indonesia Merdeka.
Bangsa Indonesia memiliki modal perjuangan yang masih relevan untuk menuju Indonesia Berkemajuan. Modal itu adalah daya juang, harmoni, gotong royong dan tangguh tahan menderita, yangmana menjadi modal social dan budaya yang sangat penting. Modal utama tersebut hanya membutuhkan penyesuaian dan pengembangan sesuai dengan dinamika dan perkembangan sejalan dengan dinamika dan tantangan zaman.
Diperlukan revitalisasi visi dan karakter bangsa yang membawa bangsa dan Negara Indonesia menjadi maju dan beradab sejajar serta lebih unggul disbanding bangsa yang lain.
Umat Islam sebgai komponne mayoritas hendaknya memanfaatkan kedudukannya untuk menjalankan peran-peran strategis dalam membawa Indonesia menjadi Negara dan berkemajuan sekaligus mampu bersaing dalam percaturan global. Umat Islam saat ini dank e depan harus tampil sebagai perekat integrasi nasional yang menampilkan Islam Indonesia berwatak tengahan (wasithiyah) yang damai, santun, dan toleran sekaligus berkemajuan menghadapi tantangan jaman.
Tanpa Islam berkemajuan maka Indonesia akan tetap menjadi Negara berkembang, berbudaya tradisional yang tertinggal, serta tidak akan menjadi bangsa yang unggul di kancah dunia.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam pelopor pembaruan senantiasa istiqomah melaksanakan misi dakwah dan tajdid untuk pencerahan, bersikap proaktif dalam menunaikan peran-peran ke-umatan dan kebangsaan secara konstruktif, cerdas, dan bijaksana, serta tidak bergerak dalam perjuangan politik kekuasaan (politik praktis).
Warga dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan memiliki kewajiban moral-keagamaan untuk memberikan keteladanan yang baik dlaam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam seluruh aspekkehidupan yang didasari nilai-nilai Islami.
Muhammadiyah dalam memasuki fase abad ke-dua senantiasa aktif menjalankan jihad kebangsaan sebagai katualisasi dakwah dan tajdid pencerahan dengan melakukan peran-peran konstruktif dalam meluruskan kiblat bangsa. Jihad konstitusi yang dilakukan Muhammadiyah merupakan bagian dari jihad kebangsaan agar segal kebijakan Negara dengan seluruh instrumennya benar-benar sejalan dengan jiwa, pemikiran, filosofi dan cita-cita nasional sebagaimana yang diletakkan oleh para pendiri bangsa.
Muhammadiyah, sejalan dengan Khittah dan Kepribadiannya menegaskan sikap konsisten dalam ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, berkiprah nyata melalui berbagai amal usaha, serta bekerjsama dengan pemerintah dan seluruh komponen bangsa menuju Indonesia Berkemajuan.
Muhammadiyah memandang bahwa Indonesia ke-depan meniscayakan rekonstruksi social-politik, ekonomi, dan budaya yang bermakna, yang mensyaratkan kehadiran agama sebagai sumber nilai kemajuan, pendidikan yang mencerahkan, kepemimpinan profetik, institusi yang progresif dan keadaban public yang dijiwai nilai-nilai Pancasila yang unggul dan Islami.

Wednesday, August 26, 2015

Pengertian Indonesia sebagai Darul ‘Ahdi wa Syahadah dalam Muhammadiyah



Muhammadiyah memandang bahwa Negara Pancasila meru[akan hasil consensus (kesepakatan) nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negeri yang aman dan damai menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT.
Hasil kesepakatan atau consensus itulah yang diistilahkan dengan Darul ‘Ahdi, Negara Kesepakatan Nasional. Sedangkan Negara Kesaksian diistilahkan dengan Darusy Syahadah. Sehingga Indonesia sebagai Negara Pancasila, dimaknai oleh Muhammadiyah sebagai Negara hasil kesepakatan nasional dan Negara kesaksian, Darul ‘Ahdi Wa Syahadah.
Pandangan kebangsaan Muhammadiyah ini sejalan dengan cita-cita Islam tentang Negara idaman yaitu, Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, yaitu negri yang baik dan berada dalam ampunan Allah SWT.
Negara ideal itu diberkahi karena penduduknya memiliki sifat-sifat :
Beriman dan bertaqwa
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf : 96)

Beribadah dan memakmurkannya
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)
dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[*], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS. Hud : 61)

[*] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

Menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan di dalamnya
dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[*]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." (QS. Al Baqarah :11 )

[24* Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al Baqarah : 30)

Memiliki relasi hubungan dengan Allah yang harmonis, juga terhadap sesama manusia
mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia[*], dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu[**] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu[***] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imran : 112)

[*] Maksudnya: perlindungan yang ditetapkan Allah dalam Al Quran dan perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam atas mereka.
[**] Yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah.
[***] Yakni: kekafiran dan pembunuhan atas Para nabi-nabi.

Mengembangkan pergaulan global yang setara dan berdasar taqwa
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuurat : 13)

Menjadi Negara unggulan bermartabat
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110)




Tuesday, August 25, 2015

Peran Muhammadiyah di Negara Pancasila



Muhammadiyah sebgai kekuatan nasional sejak awal berdirinya pada tahun 1912 telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan dan melalui para tokohnya terlibat aktif mendirikan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Muhammadiyah memiliki komitmen dan tanggungjawab tinggi untuk memajukan bangsa dan Negara sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Para tokoh Muhammadiyah sejak era KH. Ahmad Dhalan dan Nyai Walidah Dahlan hingga sesudahnya mengambil peran aktif dalam usaha-usaha kebangkitan nasional dan perjuangan kemerdekaan.

Pendiri Muhammadiyah sejak awal pergerakannya memelopori gerakan Islam berkemajuan. Dalam perspektif Muhammadiyah bahwa Islam adalah agama kemajuan yang diturunkan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan dan terbangunnya peradaban semesta yang berkemajuan. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama yang melahirkan keunggulan hidup lahiriah dan ruhaniah. Adapun dakwah dan tajdid bagi Muhammadiyah merupakan jalan perubahan untuk mewujudkan Islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman.
Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan maupun kemanusiaan universal berdasarkan pada pandangan Islam berkemajuan menegaskan komitmen untuk terus berkiprah menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedaimaian, keadilan, kemaslahatan, kemamkmuran dan keutamaan hidup secara dinamis menuju peradaban yang utama. Islam ditegakkan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan baik laki-laki maupun perempuan tanpa driskiminasi. Islam yang menggelorakan misi anti-perang, anti-terorisme, anti-penindasan, anti-keterbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan.
Peran Muhammadiyah dan para tokohnya dalam mengemban misi Islam berkemajuan berlanjut dalam kiprah kebangsaan lahirnya Negara Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945. Muhammadiyah melalui para pemimpinnya terlibat aktif dalam usaha-usaha kemerdekaan. Kyai Haji Mas Mansur menjadi anggota empat serangkai bersama Ir. Sukarno, Mohammad Hatta dan Ki Hajar Dewantara yang merintis prakarsa persiapan kemerdekaan Indonesia terutama dengan pemerintahan Negara Jepang. Tokoh penting Muhammadiyah lainnya Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar Mudzakir, dan Mr. Kasman Singodimedjo bersama para tokoh bangsa lainnya mengambil peran aktif dalam merumuskan prinsip dan bangunan dasar Negara Indonesia sebagaimana keterlibatannya di Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketiga tokoh itu pula bersama tokoh Islam yang lain menjadi perumus dan penandatangan lahirnya Piagam Jakarta yang menjiwai Pembukaan UUD 1945.
    Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku kader dan pimpinan Muhammadiyah membuktikan peran strategisnya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan keabsahan Indonesia merdeka. Soedirman menjadi tokoh utama perang gerilya dan kemudian menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia. Insiyur Juanda adalah tokoh Muhammadiyah yang menjadi pencetus Deklarasi Juanda tahun 1957, yang menjadi tonggak eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menyatukan laut ke dalam kepulauan Indonesia, sehingga Indonesia menjadi Negara yang utuh.
Muhammadiyah dengan pandangan Islam Berkemajuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa berusaha untuk mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Muhammadiyah dan umat Islam merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia yang memiliki peran hostoris yang menentukan sejak sebelum kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan. Muhammadiyah telah dan akan terus memberikan sumbangsih besar di dalam upaya-upaya mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa serta mengembangkan moral politik Islam berwawasan kebangsaan di tengah pertarungan berbagai ideology dunia.
Setelah Indonesia merdeka pada berbagai periode pemerintahan hingga periode reformasi, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan Negara terus berlanjut. Kiprah Muhammadiyah sepanjang lebih dari satu abad merupakan bukti bahwa Muhammadiyah ikut berjuang, berkorban dan memiliki saham besar dalam usaha-usaha kemerdekaan dan membangun Negara Indonesia. Oleh karenanya Muhammadiyah berkomitmen untuk terus berkiprah membangun dan meluruskan arah kiblat Indonesia sebagai Negara Pancasila yang maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat menuju peradaban yang utama dalam ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Featured Post

Langkah Ke-Dua untuk Meraih 1000 Dolar dari Shutterstock

Assalamu'alaikum kawan semua! Yang pertama ingin saya sampaikan, $ elamat ! bagi anda sudah terdaftar sebagai Contributor Shuttersto...

Popular Posts